jump to navigation

Cermin Diri – KH.Rahmat Abdullah March 8, 2010

Posted by Panji Mitiqo Al-Farouk in Nasihat Islami.
trackback

Orang-orang bijak pernah berpesan “Ma halaka`amru-un arafa Qadra nafsihi”
(Tak akan celaka orang yang kenal harkat dirinya).
Telah banyak orang binasa karena terlalu tinggi memasang harga diatas
realita dirinya. Banyak yang lenyap dari peredaran karena terlalu
murah menghargai dirinya – dengan waham `tawadhu’ atau perasaan
tidak mampu dan tidak punya apa-apa. Selebihnya adalah jenis orang
yang berjalan dalam tidur atau tidur sambil berjalan. Tepatnya
pengigau berat. Ia tak pernah bisa menyadari dimana posisinya,
apa yang terjadi di sekitarnya dan apa bahaya yang mengancam ummatnya.

Dalam kaitan sistem, baik ormas, partai atau pemerintahan kerap
terjebak dalam wa-ham-waham kekuasaan ; berbahasa dan bertindak
dengan pendekatan kekuasaan. Mereka yang `berkuasa’ merasa percaya
diri, hanya karena secara de jure punya otoritas atas wilayah
territorial, wilayah problematika dan wilayah sumber daya manusia.
Bahwa wilayah ruhaniyah dan wilayah fikriyah tak dapat ditundukkan
begitu saja oleh senjata, uang dan kedudukan, kerap luput dari
renungan. Entah karena inikah ketika ALLAH mengaitkan keselamatan
dunia dengan keberadaan Ulu Baqiyah (orang-orang yang potensial
dipertahankan keberadaannya) dan mengemban misi `mencegah kerusakan
di muka bumi’, justeru pada saat yang sama mereka yang (berbakat)
zalim terus saja mengikuti kecenderungan hedonik mereka dan
karenanya mereka menjadi durhaka (Qs. 10;116).

Ghurur Hal terberat yang kau hadapi bukan keraguan, kebencian dan
permusuhan orang yang tak mengenalmu. Sekeras apapun hati mereka,
kekuatan Hidayah dapat menundukkan mereka kepada kebenaran da’wahmu,
dengan idzin-Nya. Bila itu pun tidak, engkau tak akan dipersalahkan,
karena tataranmu dakwah dan tataran-Nya hidayah. Cobaan berat,
justru pada percaya diri yang tidak proporsional. Engkau nikmati
benar sanjungan orang terhadap dirimu atau jamaahmu, padahal engkau
sendiri jauh dari kepatutan itu. Malang nasibmu wahai orang yang
percaya kepada kejahilan orang yang menyanjungmu, sedangkan engkau
sangat terang melihat kekurangan dirimu. Mentalitas Qarun tersimpul
dalam satu kalimat “Hadza Li” (Semua ini karyaku, karena aku,
milikku).

Ketika arogansi mendominasi hubungan `yang adi daya’ dengan `yang
tak berdaya’, maka yang pertama harus membayar ongkos yang sangat
mahal ; dari antipati sampai kutukan mereka yang tak berdaya. Berat
menyadarkan orang yang otaknya berjelaga, egois dan hanya melihat
apa yang mereka anggap hak, tanpa kesadaran seimbang akan kewajiban.
Kepada mereka Imam Syafii menegaskan :

Bila engkau mendekatiku, mendekat pula cintaku Jika engkau menjauh,
aku kan lebih jauh darimu Dalam hidup masing-masing kita Tak
bergantung dengan saudara Dan kita lebih tidak bergantung lagi bila
tamat usia

Orang yang mentah fikiran selalu mengandalkan sanjungan kosong, tak
berbasis pada prestasi, atau mungkin mereka berprestasi, namun
menganggap itu sebagai hal besar yang memungkinkan mereka memonopoli
kebajikan. “Mereka membangkit-bangkit keislaman mereka (sebagai
jasa) kepadamu. Katakan : `Janganlah kalian bangkit-bangkitkan
kepadaku keislamanmu, akan tetapi ALLAH lah yang
telah memberikarunia besar dengan membimbing kalian kepada Iman…” (Qs. 49:17)

Sebelum bubarnya Uni Sovyet, ada dua spesies yang sangat
dibenci rakyat ;
1. Partai Komunis,
2. etnik Rus.
Yang pertama dibenci
karena selalu ingin campur dalam segala urusan orang. Dari urusan
menteri, tentara, pegawai negeri, isteri pegawai, anak pegawai
sampai mimpi-mimpi rakyat. Yang kedua tak tahu diri sebagai
mayoritas, bagaikan truk besar yang berlari kencang, anginnya
mementalkan kendaraan-kendaraan kecil di tepi jalan.

Cermati bagaimana karakter kekuasaan itu tumbuh. Banyak orang yang
berkuasa mengabaikan pengenalan wilayah-wilayah kekuasaan dengan
segala karakternya. Pemerintah yang mempunyai otoritas memulainya
dengan 3 wilayah :
1. Wilayah ardliyah (teritorial),
2. Wilayahinsaniyah (kemanusiaan, SDM, rakyat),
3. Wilayah masailiyah(problematika).
Dengan ketiga otoritas ini mereka dapat
menggusurtanah rakyat, membagi HPH, menaikkan pajak, tarif, UMR,
memainkanmoney politik, mencetak uang untuk kepentingan partai,
membunuhkarakter lawan politik dan memenjarakan mereka. Berapa lama
merekadapat berkuasa dengan tiga pilar ini ? Entahlah, yang jelas
telahbertumbangan begitu banyak rezim dengan begitu banyak dana,
senjatadan tentara. Mereka melupakan 2 wilayah yang sebenarnya
pagi-pagiharus sudah dikuasai, bahkan sebelum mereka menguasai
wilayah-wilayah lainnya. Jauh sebelum Rasulullah SAW hijrah ke
Madinah,rumah-rumah disana sudah menaungi begitu banyak
muslim.

Pada penghujung era Makkiyah, baiah Aqabah II telah menyuratkan
pesan yang begitu kuat. “Kami siap melindungi Rasulu’Llah SAW,
sebagaimana kami melindungi anak-anak dan isteri-isteri kami”.
Madinah telah dikukuhkan menjadi bumi Islam sebelum para Muhajir
berangkat kesana. Rasulullah sudah ditunggu dengan segala kerinduan,
sebelum mereka melihat wajahnya. Da’wah Qur-an telah mengakar dalam
wilayah ruhaniyah dan wilayah fikriyah mereka, dua wilayah yang pada
saatnya melahirkan energi besar, mengalahkan semua penguasa yang
hanya berpuas diri dengan tiga wilayah yang serba refleks, fenomenal
dan efektif untuk waktu singkat.

Wahan Tak kalah beratnya beban mental orang yang sama sekali tak
mampu memberikan kontribusi. Ia sendiri tak mampu membantu dirinya
sendiri, bahkan dengan sekedar percaya dan menyadari bahwa dirinya
dapat berperan. Paradigma “La syai-a indi” (Saya tak punya apa-apa),
telah banyak merugikan ummat. Dari sini orang berbuat, dari kontra
produktif sampai amoral. Ia tak merasa ada kaitan sepak-terjangnya
dengan lingkungannya.
Ia mampu melumuri citranya – sama sepertimereka yang over pede – tanpa
cemas hal itu akan berdampak luas,bagi diri, keluarga dan
lingkungannya. Mereka banyak memubadzirkanumur dan hidup tanpa
program. Rendah diri dan karenanya tak jarangmerawat hasad, dengki dan
khianat.

Mereka dapat tampil dalam figur seorang alim, publik figur dan apa
saja yang `mulia’, namun mengabaikan berkah amal jama’i, karena
merasa `tak sebodoh’ komunitasnya atau lupa bahwa dirinya (dapat
menjadi) besar di tengah mereka. Terkadang batas antara orang
yang berlebihan percaya diri dengan yang sangat tak percaya diri,
begitu sulit dibedakan. Kritik pedas bisa datang dari mereka yang
gagal melaksanakan apa yang dikritiknya. Atau yang tak cukup
punya keberanian berargumentasi karena kurang pedenya.

Marilah berjabat tangan, ayunkah langkah dengan yakin dan lengkapi
kekurangan diri dengan kelebihan saudara atau sebaliknya menopang
kelemahan mereka dengan kekuatan diri yang ALLAH amanahkan. Banyak
orang bingung mencari lahan kerja dan lahan kerja Da’wah tak pernah
tutup.

Dimana posisimu ? Mungkin beberapa kalangan akan keberatan bila
kukatakan engkau telah menyulam halaman da’wah di negeri ini dengan
benang emas dan menyemaikan benih-benih berkah di lahan tandus,
sehingga berubah menjadi ladang-ladang subur masa depan. Pohon
keadilan, buah kemakmuran, bunga kesetaraan, ranah kesetiaan dan
rumah kasih sayang. Bukan tujuanmu menciptakan iri. Ada yang begitu
geram ketika hamba-hamba ALLAH perempuan keluar dari setiap gang dan
kampus dengan jilbab mereka yang anggun dan IP mereka yang
cemerleng. 20 tahun yang lalu harus keluar dari sekolah negeri yang
dibangun dengan uang pajak mereka sendiri. Ya, kebangkitan memang
bukan hanya sisi ini, namun banyak kebaikan tersimpulkan pada aspek
ini. Intinya ;
Perubahan.

Dan hari ini puncak gunung es itu telah memperlihatkan
dinamikabesar kebangkitan, shahwah yang penuh berkah. Tauhid adalah
sistemkonstruksi terpadu yang meletakkan segalanya tepat pada
tempat,peran dan kepatutannya. Intelektual adalah sistem pengapianmu
yangtak pernah padam. Kader-kader yang selalu ikhlas berkorban
adalahroda yang siap menjelajah medan-medan berat. Keulamaan adalah
sistemkendali-mu yang tahu kapan harus berbelok, menanjak, menurun
danmenerobos hutan belantara, padang tandus serta bebatuan. Yang
takbergaransi ialah kondisi jalan, bahkan sekali pun dengan rute
yangjelas dan lurus, kendaraan yang teruji, kru yang jujur, pakar
dansabar.

Dari semua setting ini, tentukanlah dimana posisimu ;
penonton yangmencari hiburan, penunggu yang tak punya empati, atau
pengharapkegagalan karena ada yang tak sejalan dengan persepsi mereka.
Ataupenuntun dan pengikut dengan pengenalan sistem navigasi yang
akuratdan keyakinan yang mantap, bahwa laut tetap bergelom-bang dan
diseberang ada pantai harapan.

(dari FB Bayu Satya Hendratmo)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: